Q&A: Format Paper Layout

Dokumen ini ditulis untuk menjawab dua pertanyaan mahasiswa. Pertanyaannya cukup spesifik; saya generalisasi menjadi format dan layout paper.

Dua Pertanyaan Mahasiswa

RIZKY AMANDA Student | 22 June 2020, 9:03:16 AM

Ideal / standar ukuran margin dalam penyusunan jurnal berapa ya pak ?

DIMAS ARYO SASONGKO Student | 23 June 2020, 9:02:20 AM

Sebagai tambahan pak, biasanya saya dapat info dari teman-teman
yang kerja di LIPI mereka menggunakan LaTEX untuk generate format
dokumen secara otomatis. Secara mungkin kebanyakan dari kami
tidak berpengalaman menggunakan LaTEX, apakah ada semacam
template microsoft Word yang dapat digunakan, sudah termasuk
paragraph stylingnya dan lain-lain?

 

Jawaban 

Pertama-sama, saya mengucapkan terima kasih untuk keterlibatannya dalam diskusi. Kedua, mohon maaf bahwa saya merespon setelah lima hari. Saya akan coba lebih cepat. Setelah belajar menulis paper ilmiah lebih dari beberapa dekade, saya menyarankan hal-hal berikut.

Seperti halnya ukuran margin, format dan layout adalah hal terakhir yang diperhatikan dalam menulis paper. Keduanya bukanlah hal yang paling sulit. Hal utama dalam menulis paper adalah isi paper. Ini adalah bagian yang lebih sulit daripada format dan layout. Mahasiswa harus fokus ke sini; bukan ke format dan layout.

Sebelum dikirim, paper harus diformat dan dilayout mengikuti ‘Guidance for Authors’ jurnal yang dituju. Jika tidak, paper mungkin ditolak karena alasan ini, bukan karena alasan materi. Hal ini tentu sangat mengecewakan.

Seringkali format dan layout yang diminta oleh jurnal bukanlah format yang baik untuk proses pembuatan paper (paper development).

Jurnal memperhatikan format artikel untuk penerbitan, untuk pembacaan. Dengan pertimbangan ini, seluruh daerah cetak kertas digunakan seoptimal mungkin; sangat sedikit daerah kosong dalam kertas yang tersisa. Sering artikel diformat dengan dua kolom, bahkan tiga. Jarak antar baris diset di spasi tunggal.

Proses pembuatan artikel membutuhkan format yang berbeda.

Dalam tahapan pembuatan paper, penulis harus fokus pada isi paper, bukan pada format dan layout. Dalam tahapan ini, format paper sesederhana mungkin.

Hindari menulis artikel dan memperhatikan format secara bersamaan. Karena alasan ini, Microsoft Word bukanlah media yang baik untuk menulis artikel ilmiah.

Dalam proses pembuatan, paper kadang perlu dicetak di kertas di mana editing dilakukan. Di bawah ini, Gambar 1, diberikan contoh paper yang sedang diedit di kertas.

Gambar 1 Contoh dokumen yang diedit dalam skala mayor

Bagaimana Anda menformat paper untuk memfasilitasi proses editing di atas? Anda akan menyediakan banyak ruangan kosong: spasi ganda, margin yang luas untuk meninggalkan catatan.

Sekarang ini, banyak yang melakukan editing dengan perangkat lunak. Contoh editing secara digital diperlihatkan di bawah ini, dalam Gambar 2. Komentar diletakkan di sisi margin. Oleh karena itu, sepertinya baik menggunakan margin yang cukup besar.

Gambar 2 Contoh editing menggunakan perangkat lunak

Singkat kata, dalam proses pembuatan paper, gunakan format yang sangat sederhana. Berikan tempat yang luas untuk editing. Pendekatan ini mungkin belum digunakan oleh banyak penulis paper ilmiah. Pendekatan ini meminta penulis untuk memperhatikan proses editing sebagai bagian dari proses pembuatan paper.

 

LATEX adalah perangkat lunak yang baik untuk menulis paper atau buku, terutama dengan kandungan matematika yang tinggi. Akan tetapi, ‘learning curve’ untuk LATEX lebih ‘stiff’ dibanding Word. Contoh Latex dapat dilihat pada Gambar 2.

Saya selalu mengetik paper di LATEX. Karena banyak konferensi dan jurnal di Indonesia hanya menerima dokumen dalam Word, paper mesti saya konversi ke format yang mereka minta. Dokumen ini, dalam bentuk pdf, ditulis dan ditypeset menggunakan LATEX.

 

Tulisan ini juga dapat diakses secara lengkap pada link ini

 

Fergyanto E Gunawan, Dr Eng