Buku ini merupakan implikasi dari berbagai penelitian seputar customer experience, distinctive operational capability, co-creation dan business model innovation terhadap transformational performance pada industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Buku ini dilengkapi dengan impartansi proses kerja dari berbagai perusahaan telekomunikasi di dunia, salah satunya PT Telkom Indonesia Internasional (Telin).

Empat amunisi yang bisa kita gunakan agar transformasi performa bisa berjalan dengan baik. Perusahaan harus mengubah paradigma dan menyadari bahwa transformational perfomance adalah bagian dari kinerja perusahaan. Sebenarnya langkah-langkah itu bisa dilakukan secara pararel oleh perusahaan TIK di Indonesia. Namun, transformasi dalam dunia TIK tidak bisa menunggu, khususnya bagi mereka yang bergelut di dunia ini. Artinya perlu ditentukan mana yang harus dilakukan secepatnya. Sebab, sedikit terlambat, dampaknya sangatlah besar bagi kinerja perusahaan TIK. Itulah yang menjadi pembahasan dalam buku ini.

Kelahiran buku tidal terlepas dari tren yang sebenarnya sedang berada di sekitar kita, namun kerap kali tidak tersadari. Seperti kita ketahui bahwa bisnis sangat lekat dengan arti kompetisi. Perusahaan besar dan kecil saling beradu seputar strategi, produk, hingga jasa demi memenangkan hati konsumen mereka. Ada kalanya perusahaan besar yang merupakan petahanan mampu menang dalam persaingan, namun ada kalanya perusahaan kecil yang gesit dan lincah mampu mengalahkan pendahulunya.

Begitu pula dalam dunia TIK. Pemain-pemain yang ada di dalamnya –bahkan hingga kini harus terjebak dalam perang harga dan promosi. Jika dulu biaya panggilan dihitung per menit, kini operator justru menghitung dengan satuan detik, bahkan ada yang memberikan secara cuma-cuma.

Selain menghadapi persaingan yang sengit, perusahaan TIK juga harus menghadapi kompetisi dari perusahaan digital. Mereka yang semula identik dengan servis dan konten, kini justru masuk ke ranah infrastruktur. Itulah mengapa perusahaan TIK di Indonesia dan dunia dituntut untuk berubah. Mereka harus melakukan transformasi agar bisa mempertahankan kinerja keuangannya, hingga nasibnya di masa depan.

Salah satu pilihan dalam transformasi adalah mengubah mindset yang ada. Jika dulu perusahaan sangat identik dengan kompetisi, saat ini perusahaan harus membuka pintu selebar-lebarnya untuk melakukan kolaborasi. Perusahaan harus melakukan inovasi dalam co-creation. Artinya perusahaan yang sebelumnya kita anggap sebagai kompetitor justru harus dilihat sebagai rekan atau mitra.

Melalui co-creation, perusahaan TIK yang telah berusia cukup lama bisa berkreasi bersama konsumennya, mulai dari para mitra dalam bentuk kerja sama business to busines to consumer (B2B2C), atau berkreasi bersama konsumen individual dalam bentuk business to consumer (B2C). Sebab, sedikit banyak, konsumen itulah yang paling mengerti apa yang mereka butuhkan dalam sebuah produk atau jasa. Artinya dengan melibatkan mereka, kita bisa menghasilkan produk atau jasa yang terbaik, yang memang diinginkan oleh pasar.

Buku ini terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu The Philosophy, The Principle dan The Practice.

Pada bagian The Philosophy, kita akan membahas seperti apa tren bisnis di dunia saat ini, mengapa kita harus segera melakukan transformasi, hingga bagaimana cara mengukur sebuah kinerja perusahaan di era baru ini. Sedangkan pada bagian The Principle, kita akan membahas mengenai keempat amunisi dalam melakukan transformasi, yaitu customer experience, distinctive operational capability, co-creation dan business model innovation. Pada bagian The Practise, kita akan membahas kaitan antara satu amunisi dan lainnya, mana yang paling utama ketika kita melakukan transformasi, hingga dampaknya.

Tidak hanya menunjukkan kesimpulan dari sebuah penelitian, penulis juga memasukkan kisah Telin dalam melakukan transformasi yang masih berlangsung hingga kini.

Besar harapan kami agar monograf bertajuk Co-Creation Innovation Transformation Model: Praktik di Industri TIK ini bisa bermanfaat bagi para praktisi di dunia TIK dan industri lain, sekaligus mengingatkan bahwa saat ini kita telah memasuki sebuah era dan paradigma baru, di mana transformasi harus segera dilakukan oleh siapa pun tanpa lagi menunggu. Sebuah masa di mana kolaborasi jauh lebih penting ketimbang kompetisi. Sebuah zaman baru di mana co-creation adalah sebuah hal yang tidak boleh kita jauhi, melainkan kita dekati.